Kuantan Singingi – Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sepanjang aliran Sungai Kuantan, tepatnya di wilayah Desa Pulau Jambu dan Desa Pulau Bayur, wilayah hukum Polsek Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi, kembali menjadi sorotan tajam publik. Hingga Selasa (26/05/2026), jumlah rakit mesin ponton yang beroperasi disebut mencapai ratusan unit dan diduga terus bertambah secara terang-terangan.
Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Namun ironisnya, meski telah berulang kali diberitakan sebelumnya, aktivitas PETI di wilayah hukum Polsek Cerenti justru dinilai semakin tak terkendali. Rekaman video yang diterima redaksi memperlihatkan deretan rakit ponton memenuhi aliran Sungai Kuantan, seolah aktivitas ilegal tersebut berlangsung tanpa hambatan.
Sejumlah warga Masyarakat setempat menilai kondisi ini sebagai bentuk lemahnya pengawasan dan penindakan terhadap praktik tambang ilegal yang telah lama merusak lingkungan serta mengganggu ketertiban sosial di tengah masyarakat.
“Jumlahnya semakin banyak. Mereka bekerja siang malam secara terang-terangan. Kami heran kenapa seolah tidak tersentuh hukum,” ungkap seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Di tengah maraknya aktivitas PETI tersebut, beredar pula berbagai informasi di tengah masyarakat terkait dugaan adanya keterlibatan sejumlah oknum dan dugaan aliran dana rutin yang disebut-sebut berkaitan dengan aktivitas tambang ilegal itu. Informasi tersebut hingga kini masih sebatas dugaan dan belum mendapat klarifikasi resmi dari pihak-pihak terkait.
Akibat aktivitas PETI yang terus berlangsung, kerusakan lingkungan di sepanjang Sungai Kuantan disebut semakin parah. Air sungai keruh, ekosistem terganggu, dan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sungai semakin merasakan dampaknya secara langsung.
Tak hanya persoalan lingkungan, situasi sosial masyarakat juga disebut mulai memanas. Warga yang menolak keberadaan PETI mengaku kini merasa khawatir dan lebih berhati-hati dalam beraktivitas karena takut terjadi gesekan di lapangan.
“Kondisinya sudah sensitif. Jangan sampai masyarakat dibenturkan hanya karena aktivitas ilegal ini terus dibiarkan,” ujar warga lainnya.
Masyarakat pun mendesak aparat penegak hukum, khususnya Kapolda Riau, agar turun langsung melakukan penertiban besar-besaran terhadap aktivitas PETI di wilayah hukum Polsek Cerenti. Warga berharap penanganan dilakukan secara serius, transparan, dan tanpa tebang pilih.
“Jangan tunggu sampai ada korban atau konflik horizontal. Kami hanya ingin PETI dihentikan dan Sungai Kuantan diselamatkan,” tegas warga.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak-pihak yang disebut dalam informasi yang beredar maupun dari aparat penegak hukum terkait aktivitas PETI yang kembali ramai diperbincangkan tersebut.






