Darurat Moral di Solok: Warga Bongkar Dugaan Maksiat, Narkoba, Judi, dan Pungli Setiap Unit Eskavator Aktivitas PETI

Solok, 25 April 2026 — Kondisi sosial di wilayah Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kembali menjadi sorotan. Laporan terbaru dari warga setempat mengungkap dugaan maraknya peredaran narkotika, praktik perjudian, aktivitas maksiat, pungutan liar setiap unit alat berat jenis Eskavator hingga pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang disebut berlangsung secara masif dan terorganisir.

Warga yang meminta identitasnya dirahasiakan menyampaikan bahwa peredaran narkoba di wilayah tersebut kian meluas dan mengkhawatirkan. Bahkan, menurutnya, Alahan Panjang dan sekitarnya termasuk kawasan hutan lindung wilayah lembah gumanti telah lama menjadi titik rawan, namun hingga kini belum terlihat penindakan yang menyentuh akar persoalan.

“Ini bukan lagi sekadar isu, tapi sudah darurat. Narkoba merusak keluarga, anak-anak putus sekolah, perceraian meningkat, pencurian marak, bahkan ada keluarga yang menggunakan narkoba bersama,” ungkapnya.

Tak hanya narkotika, praktik perjudian juga disebut berlangsung terang-terangan. Salah satu lokasi yang disorot berada di sekitar terminal, tepatnya depan tugu lobak, yang disebut menjadi markas aktivitas judi harian. Tempat tersebut diduga milik seseorang berinisial Nabi, yang juga disebut-sebut sebagai bandar narkoba jenis sabu.

Lebih jauh, warga juga mengungkap dugaan adanya keterlibatan oknum aparat dalam aktivitas tersebut. Bahkan, menurut pengakuan warga, sejumlah oknum kepolisian terlihat ikut serta dalam praktik perjudian dan berada di lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat penyalahgunaan narkoba.

Kemudian Sorotan lain mengarah pada dugaan praktik pungutan liar terhadap alat berat yang masuk ke lokasi tambang emas ilegal. Setiap unit ekskavator yang melintas disebut dikenakan pungutan sekitar Rp1,5 juta oleh sekelompok orang yang dipimpin oleh sosok berinisial IB alias In Bakar. Pungutan tersebut diduga dilakukan secara rutin terhadap 2–3 unit alat berat yang masuk setiap hari melalui jalur Talang Babungo.

Yang lebih mengkhawatirkan, pungutan tersebut disebut-sebut dilakukan dengan dalih “jatah keamanan” dan diduga mendapat persetujuan dari seorang oknum Koramil yang nama tidak dia kenal, Aktivitas ini memperlihatkan indikasi adanya sistem yang terstruktur dalam praktik PETI di wilayah tersebut.

Selain dampak sosial, aktivitas tambang ilegal juga telah memakan korban jiwa. Warga mengingat sejumlah insiden fatal, termasuk kejadian yang disebut menewaskan puluhan orang di masa lalu, serta insiden terbaru di mana seorang pekerja dilaporkan meninggal dunia akibat tertimpa alat berat. Informasi terkait kejadian ini sempat muncul di media, meski kemudian telah di take down alias 404 dari tautan media tersebut, namun sempat di screenshot oleh media lain dan telah viral di akun TikTok @Athia Tim Intelijen

1. Link video 

Ironisnya, warga mengaku telah berulang kali melaporkan kondisi ini kepada aparat penegak hukum khususnya Polres Solok Arosuka, namun respons yang diterima dinilai tidak memadai. Bahkan, muncul kekecewaan mendalam karena penindakan dianggap hanya bersifat formalitas dan tidak menyentuh aktor utama.

“Percuma melapor kalau tidak ada tindakan nyata. Semua orang tahu, tapi tidak ada yang berani bicara,” ujarnya.

Situasi ini membuat sebagian warga memilih menyampaikan laporan kepada media di luar daerah, memunculkan pertanyaan publik terkait peran dan pengawasan dan independensi pemberitaan rekan wartawan di tingkat wilayah setempat.

Di sisi lain, aktivitas PETI yang semakin meluas juga disebut merambah kawasan hutan lindung, termasuk wilayah Sungai Abu. Hal ini menambah daftar panjang persoalan lingkungan yang berpotensi menimbulkan kerusakan jangka panjang.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait, termasuk aparat kepolisian maupun instansi lainnya. Seluruh informasi yang disampaikan masih bersifat dugaan dan membutuhkan verifikasi lebih lanjut.

Namun demikian, masyarakat berharap adanya langkah tegas, transparan, dan menyeluruh dari aparat penegak hukum. Mereka menilai, tanpa tindakan nyata, kondisi ini akan terus memburuk dan mengancam masa depan generasi muda di wilayah tersebut.

“Ini sudah merusak negeri. Kami butuh tindakan, bukan sekadar janji,” tutup warga dengan nada tegas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *