Pekanbaru – Dugaan praktik kekerasan dan pungutan liar kembali mencoreng institusi kepolisian. Seorang tahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Narkoba Polresta Pekanbaru, Nasrul Ilham, diduga menjadi korban penganiayaan brutal oleh oknum polisi penjaga tahanan berinisial Depon, yang disebut turut melibatkan tahanan lain
Adapun Pungli tersebut antara lain adalah Rp.2,5 juta untuk biaya selama ia berada di Rutan, Rp. 200.000 registrasi, RP.100.000 untuk kas , Rp. 200 .000 untuk pindah Kamar. Dari jumlah semua itu. Nasrul Ilham pertama bayar Rp. 500.000 dan 200.000 untuk pindah Kamar.
Kasus ini mencuat setelah ibu korban mengungkap langsung kondisi anaknya usai melakukan kunjungan pada Kamis, 2 April 2026 siang WIB. Dalam kondisi emosional dan menangis, ia menyampaikan bahwa anaknya tidak tahan dengan perlakuan yang diterima di dalam tahanan.
“Anak saya dipukul berulang kali oleh Depon. Dia sudah tidak tahan, minta segera dipindahkan atau dikeluarkan dari situ. Dia juga bilang dipukul karena tidak punya uang untuk bayar registrasi Rp200 ribu dan kas Rp100 ribu,” ungkap sang ibu dengan suara bergetar.
Informasi ini mengindikasikan adanya dugaan praktik pungutan liar di dalam rutan, yang dibarengi dengan tindakan kekerasan terhadap tahanan yang tidak mampu membayar.
Nasrul Ilham sendiri diketahui merupakan pekerja di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tuah Madani. Ia ditangkap oleh Satresnarkoba Polresta Pekanbaru pada 7 Maret 2026 malam, saat hendak check-in di sebuah hotel bersama rekannya berinisial Aing, yang berhasil melarikan diri. Dari tangan Ilham, polisi menemukan sekitar 0,12 gram sabu yang diduga untuk konsumsi pribadi.
Kini, alih-alih mendapatkan perlindungan hukum, Ilham justru diduga menjadi korban kekerasan di dalam tahanan.
Keluarga korban mendesak agar oknum polisi berinisial Depon segera diperiksa dan diproses secara hukum oleh Propam Polda Riau. Mereka berharap ada tindakan tegas demi menjaga integritas institusi kepolisian.
Sebagai pengawas internal, Propam Polda Riau diharapkan tidak tinggal diam terhadap dugaan pelanggaran serius ini. Kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian dipertaruhkan.
Kasus ini pun menjadi sorotan dan diharapkan menjadi pintu masuk untuk mengungkap praktik-praktik serupa yang mungkin terjadi di dalam Rutan Polresta Pekanbaru.
Media akan terus mengawal perkembangan kasus ini, serta memastikan perlindungan terhadap para tahanan, khususnya Nasrul Ilham.
Tim/red






