Mabes TNI Perkuat Sinergi Pencegahan Karhutla di Kecamatan Bangko Rohil

ROHIL — Tim Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) menggelar penyuluhan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kantor Camat Bangko, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Selasa (1/9/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat sinergi seluruh unsur dalam menghadapi potensi Karhutla, khususnya di wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut.

Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI dipimpin Kolonel Elektronika (Lek) Aris Setianta, didampingi Kolonel Mar. M. Asrof Widiarto, S.T., M.Tr (Hanla), Letkol Mar. Alyessi Hippy, Mayor Inf. Andang Rohadi, Mayor Inf. Roni Kusnandar, dan Mayor Inf. Ade Hermansyah.

Kegiatan dihadiri Camat Bangko Aspri Mulia, S.STP., M.Si., Wadanramil 032/Rohil Kapten Cba. (K) Karnilawati, Wakapolsek Bangko AKP Yatim, para lurah, datuk dan datin penghulu se-Kecamatan Bangko, personel TNI-Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta masyarakat.

Kolonel Lek Aris Setianta mengatakan kegiatan tersebut merupakan kegiatan lintas matra yang melibatkan berbagai unsur. Tim Mabes TNI juga melakukan pemantauan dan pengecekan langsung ke lapangan untuk mengetahui kondisi Karhutla secara faktual.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut atas perintah Presiden RI Prabowo Subianto. Pelaksanaan kegiatan yang telah berlangsung sekitar satu minggu itu mendapat respons positif dari berbagai pihak.

“Hasil pelaksanaan kegiatan akan dituangkan dalam bentuk laporan untuk disampaikan kepada pimpinan sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut,” ujarnya.

Aris mengungkapkan masih terdapat sejumlah kendala dalam penanganan Karhutla, seperti jarak, keterbatasan kendaraan, peralatan pemadam, dan dukungan anggaran. Karena itu, diperlukan dukungan teknologi serta sarana dan prasarana yang memadai.

Camat Bangko Aspri Mulia menambahkan, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala utama dalam pemadaman Karhutla. Kondisi tersebut berdampak terhadap ketersediaan peralatan dan dapat memengaruhi kecepatan serta efektivitas petugas di lapangan.

Selain anggaran, jarak menuju lokasi kejadian juga menjadi tantangan karena dapat memperpanjang waktu tempuh dan menghambat respons awal ketika kebakaran berkembang cepat.

Sementara itu, Kolonel Mar. M. Asrof Widiarto menegaskan TNI terus berkomitmen membantu masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi berbagai kesulitan, termasuk bencana Karhutla.

Ia menjelaskan, keterlibatan TNI merupakan bagian dari pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya membantu mengatasi kesulitan masyarakat akibat bencana.

Menurut Asrof, Karhutla dapat dipengaruhi kondisi lahan yang kering, faktor cuaca, hingga aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dan alih fungsi hutan.

“Alam harus kita jaga dan lestarikan, sehingga pada akhirnya alam juga akan memberikan perlindungan dan manfaat bagi kehidupan kita semua,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya patroli TNI-Polri di desa-desa untuk mencegah dan mendeteksi Karhutla sejak dini. Pemanfaatan drone serta perangkat pendeteksi panas diperlukan untuk memantau wilayah yang sulit dijangkau.

Babinsa dan Bhabinkamtibmas diminta aktif melakukan pemantauan dan pencegahan. Danramil serta Kapolsek juga diminta terus memonitor dan melaporkan perkembangan situasi berdasarkan kondisi di lapangan.

Wadanramil 032/Rohil Kapten Cba. (K) Karnilawati mengingatkan seluruh pemangku kepentingan di tingkat desa agar menyampaikan data dan informasi yang valid, akurat, lengkap, serta dapat dipertanggungjawabkan.

“Dengan koordinasi dan sinergi yang baik antara pemerintah desa, masyarakat, serta seluruh pihak terkait, diharapkan potensi Karhutla dapat ditekan dan setiap kejadian dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi,” ujarnya.

Bhabinkamtibmas AIPDA Syahrudin menegaskan tiga pilar desa, yakni Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan Penghulu, akan terus meningkatkan sinergi dalam pencegahan Karhutla.

Ia menyebut karakteristik lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena kebakaran di lahan tersebut relatif sulit dipadamkan dan membutuhkan sumber daya lebih besar. Keterbatasan embung dan sumber air juga menjadi kendala.

Syahrudin turut meminta perhatian terhadap Masyarakat Peduli Api (MPA), khususnya perlindungan dan jaminan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan guna mengantisipasi risiko yang dihadapi anggota MPA saat bertugas.

Kegiatan dilanjutkan dengan pengecekan personel dan peralatan, foto bersama, penyuluhan, serta peninjauan lahan yang terbakar.

Tim Mabes TNI menilai sinergitas TNI-Polri, pemerintah kecamatan dan desa, BPBD, MPA, serta masyarakat perlu terus diperkuat melalui patroli, pemantauan wilayah rawan, imbauan, dan pelaporan cepat.

Dengan sinergi, kesiapsiagaan, dukungan sarana, serta pemanfaatan teknologi yang semakin baik, potensi Karhutla di Kecamatan Bangko diharapkan dapat ditekan dan setiap kejadian dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terpadu.

Kegiatan selesai sekitar pukul 11.55 WIB dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif.