Menu MBG di SMAN 1 Tuhemberua Kembali Dikeluhkan: Lele Diduga Bau, Sayur Basi, Buah Naga Dipersoalkan

NIAS UTARA, 19 Agustus 2026 — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan ke SMAN 1 Tuhemberua, Desa Silimabanua, Kecamatan Tuhemberua, Kabupaten Nias Utara, kembali menjadi sorotan. Sejumlah makanan yang diterima siswa dilaporkan bermasalah dan dinilai tidak layak dikonsumsi.

Keluhan tersebut bukan disebut terjadi sekali. Berdasarkan keterangan Kepala SMAN 1 Tuhemberua, Yunifati Gea, S.Pd., kepada awak media, persoalan kualitas makanan MBG telah terjadi sebanyak tiga kali sejak sekolah bekerja sama dengan penyelenggara dapur SPPG.

Pihak sekolah bahkan menyatakan siap mengambil langkah lebih tegas apabila persoalan serupa kembali terjadi.

Tiga Kali Persoalan, Sekolah Mulai Kehilangan Kepercayaan

Kepala Sekolah SMAN 1 Tuhemberua mengungkapkan tiga kejadian yang menjadi perhatian pihak sekolah.

Pertama, lauk ikan lele yang dibagikan kepada siswa disebut berbau busuk sehingga dinilai tidak layak untuk dikonsumsi.

Kedua, sayuran yang disalurkan kepada siswa disebut sudah basi dan tidak dapat dimakan.

Ketiga, pada Jumat, 14 Agustus 2026, muncul persoalan pada buah naga yang dibagikan dalam menu MBG. Kejadian tersebut bahkan terekam dalam video yang kemudian beredar dan memicu kekhawatiran di lingkungan sekolah.

Menurut keterangan pihak sekolah, informasi mengenai kejadian ketiga pertama kali disampaikan salah seorang guru melalui grup sekolah pada hari yang sama. Kepala sekolah kemudian membaca pesan tersebut pada Minggu dan langsung melakukan konfirmasi kepada Kepala SPPG, Pasrah Jaya Gea.

Kepala SPPG, menurut Yunifati Gea, berjanji agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Namun, pihak sekolah menganggap persoalan tersebut sudah cukup serius karena bukan pertama kali terjadi.

“Ini sudah ketiga kalinya terjadi. Jika sampai terjadi keempat kalinya, saya bersama seluruh dewan guru akan menyebarkannya secara luas di media sosial,” tegas Yunifati Gea.

Ia juga menyampaikan bahwa apabila kembali terjadi persoalan serupa, pihak sekolah akan mempertimbangkan pemutusan kerja sama dengan dapur SPPG serta melaporkan persoalan tersebut kepada pihak yang berwenang.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Sekolah saat ditemui awak media di kantor guru SMAN 1 Tuhemberua pada 18 Agustus 2026.

Kepala SPPG Minta Persoalan Tidak Diviralkan

Dalam komunikasi dengan pihak sekolah, Kepala SPPG disebut meminta agar persoalan tersebut tidak langsung diviralkan. Pihak sekolah diminta melakukan konfirmasi apabila ditemukan masalah sehingga makanan dapat diganti pada saat itu juga.

Namun, pihak sekolah mempertanyakan mekanisme tersebut.

“Bagaimana mungkin bisa langsung diganti saat itu juga, Pak?” demikian tanggapan Kepala Sekolah sebagaimana disampaikan kepada awak media.

Pertanyaan tersebut menjadi sorotan tersendiri karena makanan telah terlebih dahulu diterima dan dibagikan kepada siswa.

Korwil SPPG: Laporan Sudah Disampaikan, Menunggu Validitas

Awak media kemudian menghubungi Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG), Desman Harefa, melalui WhatsApp untuk meminta tanggapan mengenai persoalan tersebut.

Desman Harefa menyarankan agar konfirmasi lebih lanjut dilakukan kepada Kepala SPPG, Pasrah Jaya Gea, sekaligus memberikan nomor kontak yang bersangkutan.

Saat dimintai tanggapan resmi, Desman Harefa menyampaikan bahwa persoalan tersebut telah dilaporkan kepada pihak KPPG.

“Saya sudah melaporkan hal ini kepada pihak KPPG dan kita sedang menunggu hasil laporan serta bukti validitas.”

Ketika ditanya mengenai kerugian atau dampak yang dialami siswa, Desman Harefa menjawab bahwa pihaknya masih menunggu validitas laporan.

“Kita tunggu validitas laporannya dulu ya, Bang.”

Setelah itu, komunikasi dihentikan karena yang bersangkutan menyampaikan sedang memiliki urusan keluarga.

Kepala SPPG Belum Memberikan Tanggapan

Untuk memenuhi prinsip keberimbangan dalam pemberitaan, awak media kemudian melakukan konfirmasi langsung kepada Kepala SPPG Desa Silimabanua, Kecamatan Tuhemberua, Pasrah Jaya Gea.

Namun, hingga berita ini ditayangkan, pesan WhatsApp yang dikirimkan awak media maupun panggilan telepon belum mendapatkan respons.

Dengan demikian, belum diperoleh penjelasan langsung dari Kepala SPPG mengenai tudingan adanya makanan yang berbau, basi, maupun persoalan pada buah naga yang menjadi keluhan pihak sekolah.

Berita ini akan diperbarui apabila pihak Kepala SPPG memberikan klarifikasi atau hak jawab.

Keamanan Pangan MBG Dipertanyakan

Persoalan ini menjadi penting karena program MBG menyasar peserta didik dan makanan yang dibagikan dikonsumsi oleh siswa di lingkungan sekolah.

Apabila laporan mengenai makanan yang berbau, basi, atau tidak layak konsumsi tersebut terbukti melalui pemeriksaan pihak berwenang, maka persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut kualitas menu, tetapi juga menyentuh aspek keamanan pangan dan pengawasan penyelenggaraan makanan bagi peserta didik.

Karena itu, pihak sekolah maupun masyarakat berharap instansi yang memiliki kewenangan melakukan pemeriksaan tidak hanya menunggu persoalan kembali terjadi, tetapi dapat melakukan verifikasi dan pemeriksaan terhadap proses penyediaan makanan.

Pemeriksaan idealnya mencakup bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, kebersihan dapur, serta mekanisme pengawasan kualitas makanan sebelum makanan diterima siswa.

Sekolah Minta Ada Evaluasi Serius

Pihak sekolah berharap persoalan tersebut segera mendapatkan perhatian dari pihak terkait.

Setidaknya, ada beberapa langkah yang dinilai perlu dilakukan, antara lain:

Melakukan pemeriksaan atau inspeksi terhadap dapur penyelenggara SPPG.

Memeriksa kualitas dan kondisi bahan baku makanan.

Memastikan proses pengolahan, penyimpanan, dan distribusi memenuhi standar keamanan pangan.

Melakukan evaluasi terhadap pengawasan kualitas makanan sebelum dibagikan kepada siswa.

Memberikan tindakan sesuai ketentuan apabila hasil pemeriksaan menemukan adanya pelanggaran.

Memberikan penjelasan resmi kepada sekolah dan masyarakat mengenai hasil pemeriksaan.

Pihak sekolah juga telah memberikan peringatan bahwa kejadian serupa tidak boleh terus berulang.

Tiga kejadian yang dilaporkan dalam periode kerja sama tersebut kini menjadi ujian bagi penyelenggara MBG untuk menunjukkan bahwa kualitas, keamanan, kebersihan, dan kelayakan makanan benar-benar menjadi prioritas.

Sebab, program makan bergizi bukan sekadar memastikan makanan sampai ke sekolah, tetapi memastikan makanan yang sampai benar-benar aman dan layak dikonsumsi siswa.

Catatan Redaksi

Pemberitaan ini disusun berdasarkan keterangan Kepala SMAN 1 Tuhemberua, Yunifati Gea, S.Pd., serta tanggapan Korwil SPPG, Desman Harefa. Awak media juga telah berupaya meminta konfirmasi kepada Kepala SPPG Pasrah Jaya Gea, namun hingga berita ini ditayangkan belum mendapatkan respons.

Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Kepala SPPG, pengelola SPPG, maupun instansi terkait.

Sumber: Konfirmasi Kepala SMAN 1 Tuhemberua Yunifati Gea, S.Pd.; Korwil SPPG Desman Harefa.

Tanggal tayang: 19 Agustus 2026.

Tim/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *