RATUSAN PETI DI SUNGAI KUANTAN KEMBALI DISOROT: AZAN ASHAR TERDENGAR, TAMBANG TETAP BEROPERASI

KUANTAN SINGINGI — Azan Ashar terdengar dari masjid, namun aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) disebut tetap berlangsung di Sungai Kuantan, seberang Koto Cerenti, tepatnya kawasan Pulau Jambu. Laporan terbaru warga kepada redaksi pada Jumat (4/9/2026) menyebut dua lokasi dan kawasan sekitarnya capai ratusan rakit ponton yang masih beraktivitas.

Laporan tersebut disampaikan melalui pesan WhatsApp dan disertai dua rekaman video. Warga menyebut dalam masing-masing lokasi terdapat puluhan aktivitas PETI, sementara jika dihitung bersama kawasan sekitarnya jumlah ponton disebut mencapai ratusan unit.

Orang sedang azan Ashar sama sholat Ashar pun mereka tetap kerja. Di dua lokasi dan sekitarnya terdapat ratusan unit rakit tambang jenis ponton untuk aktivitas PETI di tepi Sungai Kuantan seberang Koto Cerenti, tempatnya di Pulau Jambu,” ujar warga kepada redaksi, Jumat.

Dalam salah satu video yang dikirim, menurut warga, suara azan terdengar jelas ketika aktivitas tambang berlangsung. Ia menyebut lokasi PETI tidak jauh dari masjid karena sejumlah masjid di kawasan berada dekat tepian Sungai.

Laporan terbaru ini memperkuat informasi sebelumnya mengenai dugaan maraknya PETI di wilayah hukum Polsek Cerenti. Sebelumnya warga juga melaporkan keberadaan sejumlah rakit ponton yang disebut tetap beroperasi meski larangan dan penertiban telah dilakukan.

Bahkan, dalam laporan sebelumnya, warga menyebut sejumlah nama yang diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas PETI, kepemilikan rakit, penampungan emas hingga dugaan pungutan terhadap pemilik ponton.

Nama Kepala Desa Koto Cerenti, Deswata, sebelumnya disebut warga dalam dugaan kepemilikan rakit. Nama Eko Iskandar juga disebut sebagai pihak yang diduga berperan sebagai koordinator lapangan, sementara Samsu Akmal disebut warga terkait dugaan kepemilikan rakit PETI.

Tudingan paling serius yang sebelumnya disampaikan warga adalah dugaan adanya aliran uang dari aktivitas PETI kepada pihak tertentu, termasuk pihak aparat. Nama Kapolsek Cerenti AKP Peri Fadli juga pernah disebut dalam informasi tersebut.

Namun seluruh tudingan itu belum merupakan kesimpulan hukum dan masih memerlukan verifikasi serta pembuktian.

Pertanyaan publik kini justru semakin besar: jika benar ratusan ponton kembali beroperasi, mengapa aktivitas PETI tidak pernah benar-benar berhenti?

Pemberantasan PETI semestinya tidak berhenti pada pekerja lapangan. Aparat perlu menelusuri seluruh rantai aktivitas, mulai dari pemilik ponton, pemodal, pemasok peralatan dan bahan bakar, pengangkutan, penampungan hingga pihak yang menikmati hasil tambang.

Jika benar terdapat pungutan atau aliran dana sebagaimana dituding warga, hal tersebut juga perlu diperiksa secara terbuka oleh pihak berwenang.

Sebab Sungai Kuantan bukan sekadar lokasi aktivitas ekonomi. Sungai tersebut merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat. Aktivitas PETI yang berlangsung terus-menerus, apabila terbukti, berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, sedimentasi, keselamatan serta konflik sosial.

Masyarakat tentu berhak memperoleh kepastian hukum, bukan sekadar melihat pola berulang: aparat datang, pekerja pergi, lokasi ditinggalkan, lalu aktivitas kembali muncul.

Karena itu, laporan terbaru warga mengenai ratusan ponton tersebut layak menjadi perhatian serius aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk melakukan pengecekan langsung ke lokasi.

Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak yang namanya disebut, termasuk Deswata, Eko Iskandar, Samsu Akmal dan AKP Peri Fadli.

Redaksi kembali menegaskan bahwa informasi mengenai dugaan keterlibatan pihak tertentu dalam aktivitas PETI maupun dugaan aliran dana bersumber dari keterangan warga dan dokumentasi yang disampaikan kepada redaksi. Seluruhnya belum terbukti secara hukum.

Pada akhirnya, publik membutuhkan jawaban yang terang: siapa pemilik ratusan ponton tersebut, siapa pemodalnya, ke mana hasil tambangnya mengalir, dan mengapa aktivitas PETI masih disebut berlangsung ketika azan Ashar berkumandang?

Jangan ada lagi ruang bagi PETI di Kuantan Singingi. Melindungi tuah, menjaga marwah.