KLARIFIKASI TEGAS ATHIA: JANGAN GIRING OPINI DENGAN BERITA SEPIHAK, VERIFIKASI FAKTA DAN JANGAN HAKIMI SEBELUM FAKTA TERUJI

KUANTAN SINGINGI — Saya, Aturan Hia atau yang kerap disebut ATHIA, selaku Bendahara DPC Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) Kabupaten Kuantan Singingi, sekaligus menjalankan aktivitas di bidang jurnalistik dan redaksi media online, menyampaikan klarifikasi resmi atas sejumlah pemberitaan terkait peristiwa yang terjadi di kediaman saya di Kelurahan Sungai Jering, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, pada Senin malam, 24 Agustus 2026.

Klarifikasi ini saya sampaikan secara terbuka setelah sebelumnya saya diwawancarai langsung oleh tim wartawan di kediaman saya pada Selasa, 25 Agustus 2026.

Video klarifikasi tersebut kemudian beredar dan dibagikan melalui media sosial TikTok maupun sejumlah grup WhatsApp.

Penjelasan secara terbuka tersebut karena sebelumnya telah muncul sejumlah pemberitaan yang, menurut saya, tidak menggambarkan peristiwa secara utuh dan tidak terlebih dahulu melakukan konfirmasi kepada seluruh pihak yang disebut dalam pemberitaan, termasuk kepada saya dan istri saya, Aliria serta adik kandung bernama Sekagesima Hia

Saya juga memahami bahwa setiap media memiliki kewenangan jurnalistik untuk memperoleh, mengolah, dan menyampaikan informasi kepada publik.

Namun, kebebasan pers bukan berarti kebebasan untuk menyajikan informasi secara sepihak tanpa proses verifikasi dan konfirmasi yang memadai.

Berita harus berpijak pada fakta, bukan sekadar pada satu versi cerita.

Saya tegaskan, persoalan utama yang saya persoalkan bukan semata-mata karena nama saya diberitakan.

Saya siap diberitakan, Saya siap dikritik, dan Saya juga siap memberikan keterangan apabila media membutuhkan penjelasan.

Tetapi yang tidak dapat saya terima adalah ketika sebuah peristiwa yang melibatkan banyak orang kemudian diberitakan hanya berdasarkan keterangan salah satu pihak, sementara pihak lain yang namanya disebut secara terang tidak pernah dikonfirmasi.

Terlebih apabila narasi yang disajikan kemudian menggambarkan seolah-olah suatu versi telah menjadi fakta yang tidak terbantahkan, padahal peristiwa tersebut masih membutuhkan pemeriksaan, klarifikasi, dan pembuktian dari seluruh pihak.

Karena itu saya mempertanyakan:

Mengapa media dapat menerbitkan berita yang menyebut nama saya, istri saya dan adik saya secara langsung, tetapi tidak terlebih dahulu meminta keterangan kami?

Sementara itu saudara saya, Sekagesima Hia, yang disebut sebagai pihak terlapor sekaligus memiliki versinya sendiri mengenai peristiwa tersebut, belum dimintai keterangan?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menurut saya harus dijawab secara profesional oleh media yang telah memberitakan perkara tersebut.

Terkait Pemberitaan TURIANISURA.COM

Salah satu pemberitaan yang saya soroti adalah pemberitaan TURIANISURA.COM dengan judul:

“Ajak Liput Kafe Remang-Remang Berujung Pembacokan, Anggota Jurnalis Laporkan Rekan Sendiri ke Polres Kuansing”

Dalam pemberitaan tersebut terdapat sejumlah narasi mengenai kronologi kejadian, termasuk penyebutan nama saya, istri saya Aliria Hia, serta saudara saya Sekagesima Hia.

Saya menyampaikan keberatan terhadap pemberitaan tersebut bukan karena saya ingin menghalangi kerja jurnalistik, tetapi karena menurut kami terdapat sejumlah bagian yang tidak sesuai dengan apa yang kami lihat dan alami langsung di lokasi kejadian.

Saya juga mempertanyakan proses konfirmasi sebelum berita tersebut diterbitkan.

Apabila media menulis bahwa suatu peristiwa merupakan pembacokan, sementara kami yang berada langsung di lokasi menyatakan bahwa menurut penglihatan kami tidak terjadi pembacokan dengan parang sebagaimana narasi yang diberitakan, maka semestinya terdapat proses verifikasi dan konfirmasi terlebih dahulu sebelum berita tersebut disajikan kepada publik.

Saya tidak meminta media untuk berpihak kepada saya, Saya hanya meminta media berpihak kepada fakta.

Sebelum masuk pada inti keributan, perlu saya jelaskan latar belakang pertemuan pada malam tersebut.

Sebelumnya, DPC GRANAT Kabupaten Kuantan Singingi dilibatkan dalam rapat koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi pada 5 Agustus 2026 terkait upaya pemberantasan penyakit masyarakat atau PEKAT.

Dalam rapat tersebut dibahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan ketertiban masyarakat, termasuk aktivitas tempat hiburan malam dan warung remang-remang yang dinilai perlu mendapatkan perhatian bersama.

Saya bersama Ketua DPC GRANAT Kabupaten Kuantan Singingi, Diki Saputra, hadir dalam kegiatan tersebut dan menyatakan dukungan terhadap upaya pemberantasan penyakit masyarakat sesuai kapasitas kami.

Karena itu, ketika pada 24 Agustus 2026 saya memperoleh informasi mengenai dugaan kembali beroperasinya sejumlah tempat yang disebut sebagai warung remang-remang, saya merasa perlu memastikan informasi tersebut.

Sekitar pukul 21.33 WIB saya kemudian menghubungi dan mengumpulkan sejumlah anggota tim di kediaman saya.

Tujuan awalnya adalah membahas informasi tersebut untuk melakukan pemantauan atau peliputan lapangan.

Namun, pada saat itu muncul permintaan uang untuk membeli minuman disampaikan oleh Heppynes Hia.

Saya tidak membenarkan permintaan tersebut dan justru meminta agar rencana yang berkaitan dengan pembelian minuman tersebut tidak dilakukan.

Bagi saya, jika tujuan awalnya adalah melakukan pemantauan atau peliputan terhadap dugaan aktivitas PEKAT, maka tidak ada alasan untuk melakukan tindakan yang justru dapat menimbulkan persoalan baru.

Keributan Justru Berawal dari Perselisihan Internal

Setelah pembahasan tersebut berkembang, terjadi perdebatan antara saudara saya: Heppynes Hia dengan Sekagesima Hia.

Dalam proses tersebut, terjadi aksi serang dan penggunaan kursi kayu sebagai benda yang dilempar.

Saya bahkan mengalami tangan kanan yang memerah serta jempol kaki saya mengalami pembengkakan dan memar setelah terinjak oleh heppynes HIA ketika saya melerainya di saat menyerang Sekagesima Hia.

Istri saya, Aliria Hia, juga ikut membantu menghentikan keributan.

Saya berkali-kali meminta agar pertikaian dihentikan.

Saya bahkan meminta warga yang berada di sekitar lokasi untuk menghubungi pihak kepolisian melalui layanan 110 karena saya mengkhawatirkan keselamatan keluarga dan orang-orang yang berada di rumah saya.

Saya Bantah Narasi Pembacokan dengan Parang

Saya perlu menyampaikan secara tegas:

Menurut apa yang saya lihat dan alami langsung di lokasi, saya tidak melihat adanya pembacokan menggunakan parang sebagaimana diberitakan.

Saya juga menyatakan bahwa tidak ada parang yang saya lihat berada di lokasi kejadian sebagaimana narasi yang diberitakan tersebut.

Yang saya lihat adalah keributan, bermula dari aksi serangan heppynes Hia kepada Sekagesima Hia dengan melempar menggunakan hp milik saya dan meninju serta kursi kayu yang dilempar hingga mengalami kerusakan dan berserakan.

Saya juga mendengar adanya ucapan heppynes Hia mengenai “tahan bacok” yang disampaikan dalam situasi keributan tersebut. Heppynes Hia berulang kali menyebut dirinya tahan bacok menggunakan parang maupun pisau dan siap di coba., ujarnya saat kejadian itu.

Hingga kemudian Sekagesima Hia juga sempat melakukan perlawanan kepada heppynes Hia yang merupakan Abang kandung, artinya kedua mereka kakak beradik.

Namun, mengenai bagaimana tepatnya luka dan lain sebagainya menurut pengakuan yang dialami masing-masing pihak, saya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan dan pembuktian berdasarkan alat bukti, keterangan saksi, pemeriksaan medis, maupun bukti lainnya.

Karena itu, saya meminta media jangan mengambil kesimpulan lebih dahulu mengenai suatu tindak pidana sebelum seluruh fakta diverifikasi secara menyeluruh.

Mengenai Sefelinus Halawa

Saya juga perlu memberikan klarifikasi terkait pemberitaan yang menyebut Sefelinus Halawa sebagai korban pembacokan.

Saya menghormati hak setiap warga negara untuk melaporkan suatu peristiwa kepada aparat penegak hukum.

Namun, saya keberatan apabila klaim mengenai pembacokan kemudian diberitakan seolah-olah telah menjadi fakta final, sementara menurut penglihatan saya sendiri peristiwa yang terjadi di lokasi berbeda dengan narasi tersebut.

Pada saat kejadian, menurut pengamatan saya, Sefelinus Halawa berada di lokasi dan melerai saat keributan tersebut.

Karena itu, saya meminta agar seluruh pihak yang berada di lokasi juga dimintai keterangan secara proporsional.

Biarkan penyidik bekerja. Biarkan bukti berbicara. Jangan media yang mengambil alih fungsi pembuktian.

Klarifikasi Mengenai Kepergian Sefelinus Halawa ke Polres Kuantan Singingi

Saya juga perlu meluruskan bagian lain yang menurut saya penting untuk diketahui publik.

Pada malam kejadian tersebut, saya menyampaikan kepada istri Sefelinus Halawa bahwa, berdasarkan apa yang saya lihat dan ketahui saat itu, kepergian suaminya dari kediaman saya menuju Polres Kuantan Singingi terjadi setelah diajak oleh Heppynes Hia.

Bahkan, menurut pengamatan saya, Sefelinus sempat turun kembali dari kendaraan beberapa kali sebelum akhirnya kembali diajak dan berangkat menuju Polres.

Saya menyampaikan hal tersebut bukan untuk menghalangi hak Sefelinus Halawa membuat laporan.

Justru saya ingin kronologi keberangkatan mereka juga diberitakan secara utuh agar publik tidak hanya mengetahui satu bagian dari rangkaian peristiwa.

Pada saat itu, saya juga menyampaikan kepada istri Sefelinus Halawa yang saya hormati dan sudah seperti keluarga sendiri:

“Kalau memang suamimu mengalami sakit, bengkak, atau cedera ketika berusaha melerai adik-adik saya, sampaikan baik-baik kepada saya. Yang bertikai tadi masih saudara kandung saya. Saya mempunyai etika dan tanggung jawab untuk membantu pengobatan atau biaya urut apabila memang diperlukan.”

Saya menyampaikan itu karena saya tidak ingin persoalan keluarga berkembang menjadi permusuhan yang lebih besar.

Apalagi Sefelinus Halawa bagi keluarga kami bukan orang asing. Hubungan kami sudah seperti keluarga sendiri.

Dalam kejadian tersebut memang terjadi lempar-lemparan kursi dan terdapat kursi yang patah hingga bagian kaki kursi berserakan.

Karena itu, apabila ada pihak yang mengalami sakit atau cedera ketika berusaha melerai, saya meminta agar disampaikan secara baik-baik dan saya siap membicarakannya secara kekeluargaan.

Mengenai Handphone yang Diamankan Istri Saya

Saya juga membantah keras narasi yang menggambarkan seolah-olah istri saya, Aliria Hia, sengaja mengambil dan menyembunyikan handphone milik heppynes Hia, jangankan niat memiliki handphone tersebut, sedangkan uang kami saja yang telah kami berikan kepada mereka lebih dari 20 juta tanpa kami bebankan menjadi hutang.

Tapi menurut yang saya lihat, setelah sebelumnya terjadi aksi pelemparan handphone hingga mengalami kerusakan, sejumlah handphone yang berada di atas meja maupun yang berserakan kemudian diamankan oleh istri saya.

Tujuannya adalah untuk mencegah barang-barang tersebut kembali digunakan dalam keributan atau mengalami kerusakan.

Setelah situasi memungkinkan, barang tersebut kemudian dikembalikan.

Karena itu, saya keberatan apabila tindakan tersebut langsung dibingkai sebagai tindakan untuk menghalangi seseorang membuat laporan kepada kepolisian tanpa terlebih dahulu meminta penjelasan kepada istri saya.

Aliria Hia berhak memberikan keterangannya sendiri.

Dan apabila sebuah media mencantumkan namanya dalam berita, maka secara etika jurnalistik semestinya media juga memberikan ruang kepadanya untuk menjelaskan versinya.

Saudara Saya, Sekagesima Hia, Juga Harus Didengar

Saya juga meminta agar media tidak melupakan posisi saudara saya, Sekagesima Hia.

Ia disebut dalam pemberitaan sebagai pihak terlapor.

Namun, ia juga merupakan pihak yang berada dalam rangkaian peristiwa tersebut dan memiliki versi kejadian sendiri.

Karena itu, apabila media ingin menyajikan berita yang benar-benar berimbang, maka keterangan Sekagesima juga harus didengar dan diverifikasi.

Saya Persoalkan Bukan Hanya Isi Berita, Tetapi Juga Prosesnya

Saya menyampaikan ini secara terbuka karena saya merasa perlu mempertanyakan proses jurnalistik yang dilakukan terhadap pemberitaan tersebut.

Apalagi setelah saya membuat klarifikasi terbuka melalui wawancara dengan tim wartawan dan video klarifikasi tersebut beredar luas di media sosial serta sejumlah grup WhatsApp, beberapa media kemudian menghapus atau memperbarui pemberitaan mereka.

Saya menghargai media-media yang kemudian melakukan perbaikan, memperbarui berita, serta memasukkan keterangan klarifikasi dari saya.

Bagi saya, langkah tersebut menunjukkan bahwa masih ada ruang bagi media untuk memperbaiki pemberitaan ketika mendapatkan informasi tambahan.

Tetapi saya mempertanyakan media yang sampai saat ini masih mempertahankan pemberitaan tanpa memberikan ruang yang proporsional terhadap klarifikasi saya, istri saya, maupun saudara saya Sekagesima Hia.

Khusus Kepada Pimpinan Redaksi TURIANISURA.COM

Saya secara khusus meminta kepada Saudara Ibezalo Zega selaku Pimpinan Redaksi TURIANISURA.COM agar persoalan ini disikapi secara profesional dan proporsional, Saya tidak meminta perlakuan khusus, Saya juga tidak meminta berita tersebut harus menguntungkan saya.

Yang saya minta sederhana:

Jika nama saya diberitakan, berikan pula hak saya untuk menjelaskan.

Jika nama istri saya disebut, berikan ruang kepada istri saya untuk memberikan keterangannya.

Jika nama saudara saya Sekagesima Hia disebut sebagai pihak terlapor, berikan pula ruang kepada yang bersangkutan untuk menjelaskan versinya.

Dan jika sebuah berita menyebut adanya “pembacokan”, maka lakukan verifikasi terhadap fakta tersebut secara menyeluruh.

Saya juga mempertanyakan mengapa berita tersebut kembali dibagikan di ruang WhatsApp yang sama setelah video klarifikasi saya sebelumnya telah saya bagikan.

Saya tidak ingin berspekulasi mengenai motif seseorang.

Namun, situasi tersebut menimbulkan kesan bagi saya seolah-olah pemberitaan tersebut sengaja dipertahankan untuk membantah atau menandingi klarifikasi saya, dan hal tersebut menurut saya patut dipertanyakan secara terbuka.

Saya berharap pihak media dapat menjelaskan secara profesional proses jurnalistik yang dilakukan.

Jangan Jadikan Konflik Keluarga sebagai Komoditas Berita

Saya sangat menyayangkan apabila konflik yang terjadi di dalam keluarga kemudian diberitakan tanpa melihat persoalan secara utuh, Saya adalah tuan rumah, Kejadian berlangsung di kediaman saya, Saya berada di lokasi sejak awal, Saya adalah abang kandung dari Heppynes Hia dan Sekagesima Hia, Saya juga bersama istri saya berusaha melerai.

Sementara Sefelinus Halawa merupakan orang yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan kami dan telah kami anggap seperti paman sendiri.

Karena itu, saya meminta seluruh pihak, termasuk rekan-rekan media, untuk tidak memperkeruh hubungan kekeluargaan yang sebenarnya masih dapat diselesaikan melalui proses hukum dan pendekatan yang bermartabat.

Jangan sampai pemberitaan justru memperlebar konflik dan menggiring masyarakat untuk membenci salah satu pihak hanya berdasarkan satu versi cerita.

Mengenai Kekhawatiran Keluarga terhadap Heppynes Hia

Saya juga perlu menyampaikan bahwa persoalan dengan Heppynes Hia bukanlah persoalan yang baru kami rasakan.

Menurut pengalaman keluarga kami, sebelumnya juga sering terjadi berbagai persoalan yang membuat keluarga merasa resah.

Saya pernah mengambil sikap menjaga jarak karena berbagai persoalan yang terjadi sebelumnya.

Namun ketika Heppynes datang kembali meminta bantuan kepada saya, termasuk ketika menghadapi persoalan utang dan masalah pekerjaan di wilayah Kabupaten Siak, saya memilih membantu karena masih memandangnya sebagai saudara.

Saya membantu bukan semata-mata dengan materi, tetapi juga dengan pikiran dan berbagai bentuk dukungan lainnya. Nilai bantuan yang telah saya keluarkan bahkan mencapai lebih dari 20 juta rupiah, yang hanya dalam beberapa bulan terakhir termasuk sampai mereka berada di Teluk Kuantan.

Saya melakukan itu karena memikirkan keluarga, istri, dan anak-anaknya.

Saya berharap bantuan tersebut menjadi jalan untuk memperbaiki keadaan.

Namun, kejadian pada 24 Agustus 2026 justru membuat keluarga kami kembali merasa sangat khawatir.

Saya tidak ingin menuduh atau memberikan vonis terhadap siapapun.

Tetapi berdasarkan apa yang saya lihat pada malam tersebut, situasi sudah berkembang menjadi konflik fisik yang sangat membahayakan keselamatan anggota keluarga.

Saya sangat khawatir jika persoalan tersebut tidak segera ditangani sesuai hukum, pada kemudian hari dapat terjadi kejadian yang lebih besar.

ATHIA Minta Polres Kuansing Menindaklanjuti Laporan Sekagesima Hia

Karena itu, saya mewakili kekhawatiran keluarga besar kami meminta kepada Polres Kuantan Singingi agar laporan yang disampaikan oleh Sekagesima Hia sebagai pihak yang menurut kami juga mengalami dan menjadi bagian utama dari peristiwa tersebut dapat ditindaklanjuti secara profesional sesuai hukum yang berlaku.

Saya tidak meminta aparat untuk langsung menyatakan seseorang bersalah, Saya meminta aparat memeriksa seluruh pihak secara objektif.

Periksa saksi-saksi, Periksa bukti yang tersedia, Periksa kondisi luka masing-masing pihak, Periksa rekaman yang mungkin ada, Periksa komunikasi yang berkaitan dengan peristiwa.

Dan apabila terdapat dugaan tertentu yang menurut penyidik memang perlu diperiksa melalui prosedur medis atau pemeriksaan ilmiah, maka lakukan sesuai ketentuan hukum dan prosedur yang berlaku.

Termasuk apabila aparat penegak hukum menilai perlu melakukan pemeriksaan terkait dugaan penggunaan narkotika terhadap pihak tertentu, saya meminta hal tersebut dilakukan secara resmi, objektif, berdasarkan dasar hukum dan prosedur pemeriksaan yang berlaku, bukan berdasarkan tuduhan keluarga semata.

Saya menyampaikan ini karena keluarga kami mempunyai kekhawatiran terhadap keselamatan bersama dan tidak ingin terjadi kejadian yang lebih serius di kemudian hari.

Biarkan hasil pemeriksaan medis dan proses hukum yang menentukan fakta, bukan asumsi saya maupun asumsi pihak lain.

Saya Tidak Ingin Ada Kejadian yang Lebih Besar

Saya berbicara sebagai abang, Saya berbicara sebagai tuan rumah, Saya berbicara sebagai anggota keluarga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut, Saya tidak ingin persoalan ini berakhir dengan dendam, Saya tidak ingin saudara saya saling berhadapan, Saya tidak ingin orang tua dan keluarga besar kembali menghadapi persoalan yang sama, Yang saya inginkan adalah kepastian hukum dan keselamatan keluarga.

Jika memang ada pihak yang bersalah, proses sesuai hukum, Jika ada pihak yang menjadi korban, lindungi haknya, Jika ada informasi yang tidak benar, luruskan, Jika ada pemberitaan yang tidak berimbang, perbaiki.

Dan jika ada dugaan tindak pidana, biarkan aparat penegak hukum yang melakukan penyelidikan dan pembuktian.

Kepada Rekan-Rekan Media: Jangan Hanya Mendengar Satu Pihak

Saya kembali menegaskan kepada seluruh media yang telah memberitakan peristiwa ini:

Saya tidak pernah melarang wartawan melakukan tugas jurnalistik, Silakan memberitakan, Silakan melakukan investigasi, Silakan mengkritik.

Tetapi jangan hanya menerima keterangan dari satu pihak lalu menjadikannya sebagai satu-satunya dasar pemberitaan:

Konfirmasi saya, Konfirmasi istri saya, Konfirmasi Sekagesima Hia, Konfirmasi saksi-saksi lain yang berada di lokasi.

Kemudian bandingkan seluruh keterangan tersebut, Itulah cara mendapatkan berita yang lebih utuh.

Jangan pula menyimpulkan seseorang sebagai pelaku atau menyajikan suatu versi sebagai fakta final sebelum terdapat proses pembuktian yang semestinya.

Saya sangat menyayangkan apabila pemberitaan justru membuat hubungan persaudaraan semakin keruh dan masyarakat semakin terpecah.

Saya meminta rekan-rekan media tetap menjunjung tinggi prinsip akurasi, verifikasi, keberimbangan, independensi, dan hak jawab

Pernyataan Penutup ATHIA

Saya, Aturan Hia (ATHIA), tetap menghormati kebebasan pers dan proses hukum.

Namun saya juga akan menggunakan hak saya untuk menyampaikan klarifikasi, meluruskan informasi yang menurut saya tidak benar, serta meminta setiap media yang mencantumkan nama saya dan keluarga untuk menjalankan prinsip jurnalistik secara profesional, berimbang, akurat, dan bertanggung jawab.

Demikian klarifikasi ini saya sampaikan secara terbuka agar masyarakat mengetahui bahwa peristiwa tersebut memiliki lebih dari satu versi dan masih memerlukan verifikasi serta pembuktian secara menyeluruh.

Aturan Hia (ATHIA)

Bendahara DPC GRANAT Kabupaten Kuantan Singingi

Jurnalis/Wartawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *